Archive for September, 2007

Vario…apa yang salah?

Tuesday, September 25th, 2007

Sudah setahun lebih sejak Honda vario diluncurkan. Sejak awal kemunculannya skuter bebek Honda ini memang diset pabrikannya untuk menekan dan menghalangi penjualan Mio. Segalanya diset agar sesuai dengan pasar Mio, mulai dari kapasitas mesin, model, sampai dimensi (meski akhirnya memang lebih gambot daripada Mio).

Sekilas Vario memang unggul dalam banyak hal. Mulai dari penggunaan radiator yang merupakan pelopor di kelas yang sama di Indonesia, ban yang lebih lebar, bodi yang lebih modern dan futuristik, dan side stand swicth. Melihat tes di Otomotif pun Vario unggul dalam performa mesin dan efisiensi bahan bakar. Atas dasar itu semua tidak sedikit orang yang memperkirakan bahwa skubek (skuter bebek) Honda inilah yang akan merajai pasar yang selama ini dipegang oleh Mio.

Namun apa daya, menurut data penjualan AISI, Vario masih berada di urutan kedua setelah Mio. Selisih yang adapun lumayan jauh, Yamaha Mio mencetak angka 224.190 sedangkan Honda Vario 149.196. Prediksi banyak orang dan media pun meleset, Honda tak bisa meraih mahkota di kelas ini.

Apa yang salah dari penjualan Vario? Spesifikasi jelas menggiurkan, jaminan brand Honda, fasilitas AHASS pun bejibun. Tidak biasanya Honda kalah di satu kelas apalagi mengingat di awal kemunculannyapun promosinya jor-joran.

Salah satu yang menjadi sebab mungkin adalah image skubek itu sendiri…

Mio adalah skubek pertama yang bisa diterima pasar dengan baik, setelah Nouvo kurang menggairahkan dan Kymco tidak serius menggarap pasar. Begitu lakunya Mio dan selama bertahun-tahun melenggang sendrian, benak pasar sudah tercap oleh paradigma bahwa skubek adalah Mio, lainnya cuma niru!

Inilah letak kesalahan Honda. Honda tidak bisa melihat pasar dan kelewat berspekulasi hingga membuat penundaan yang terlalu lama. Publik sudah mencap bahwa Mio is the best lah. Honda pun kehilangan momen, promosi gila-gilaan sudah tidak mempan, berbagai potongan dan bonus tidak bisa membuat Vario jadi yang teratas.

Selain masalah kehilangan momen, Vario juga didera masalah bawaan. Mulai dari anchor pin sampai masalah kabel gas yang seret, membuat skubek Honda ini seakan mejadi produk gagal. Untungnya Honda mengakui hal ini dan melakukan recall.

Masalah edukasi pasar soal teknologi baru juga kurang berhasil. Masih banyak orang yang underestimate soal lampu di bodi. Sebagian besar tidak menyukai sorot lampu yang tidak mengikuti arah setang tapi arah bodi. Teknologi radiator juga dianggap merepotkan dan njelimet. Bodi yang bongsor dianggap tidak lincah dan banyak pengendara khususnya wanita yang mengeluhkan hal ini.

Dilihat dari artikel diatas, sebenarnya siapa yang salah? Bagian pengembangan, bagian promosi, atau malah pasar sendiri?

Bisa dilihat lain kali…

GBU

by Fander Globalismus

Octavarium (song)

Wednesday, September 19th, 2007

Mohon maaf bagi yang mengira bahwa ini adalah lagu buatan saya. Tidak, tidak, saya terlalu pemula untuk membuat lagu seperti ini…

lagu ini adalah ciptaan salah satu band favorit saya, Dream Theater (DT). Berasal dari album dengan judul yang sama, lagu ini menawarkan pengalaman menikmati musik dengan cara berbeda.

Berbeda dengan band-band lain yang menciptakan lagu sederhana, cenderung easy listening, sing along, dll. Dream Theater menawarkan konsep progresive metal yang rumit dan sulit dicerna oleh orang kebanyakan.

Yang membuat lagu ini ribet tentunya adalah notasi yang aneh dan njelimet. Banyak sekali nada-nada yang sangat tidak akrab di kuping kita. Masih ditambah lagi dengan tempo yang aneh dan berubah-ubah. Lagi…liriknya juga aneh dan berat…sepertinya perlu sedikit pengalaman untuk memahami lirik Octavarium.

Terlepas dari ketidakwajaran lagu ini, tetap saja saya suka. Mengapa? Tentu saja (selain saya memang suka band ini jadi kefanatikan digeser sebentar) keunikannya. Saya sudah bosan dengan band yang itu-itu saja, apalagi dengan munculnya band-band seperti Kangen dkk. Saya perlu sesuatu yang baru, lebih rumit, heavy, dan tentunya lebih skillfull (saya tidak meragukan lagi skill mereka)…

GBU

by Fander Globalismus