Archive for June, 2007

Apalah Arti Sebuah Nama

Monday, June 18th, 2007

"Apalah arti sebuah nama?"

Sepertinya ini sebuah pertanyaan yang keren bila diucapkan, apalagi diucapkan saat momen-momen yang khusus. William Shakespeare-lah yang mempopulerkan pertanyaan ini. Saya pernah membaca salah satu komik yang menjadikan pertanyaan ini sebagai salah satu inti dari permasalahan cerita. Namun entah mengapa siapapun yang menyebutkan kutipan ini pasti membawa efek khusus bagi saya.

Nyatanya memang demikian, "Apalah Arti Sebuah Nama". Sebuah pernyataan (bukan pertanyaan) yang menggugah hati seperti menanyakan apakah nama itu.

Sebelumnya saya ingin menunjukkan fakta unik mengenai nama:

Bahasa Inggris menggunakan pertanyaan:"What is your name?" bila diartikan secara harafiah: Apa namamu?

Bahasa Indonesia menggunakan pertanyaan:Siapa namamu?

Keduanya menanyakan hal yang sama yaitu nama kita, seperti apakah kita ingin dipanggil?

Saya mendapatkan kesan bahwa Bahasa Indonesia menggunakan nama sebagai bukti keberadaan seseorang di dunia, bahkan bilamana seseorang tidak diketahui namanya, ia akan dipanggil dengan nama buatan Mr. X misalnya. Orang akan tidak eksis bila ia tidak mempunyai nama, sama seperti ia tidak mempunyai wujud dan bisa juga disebut sebagai "manusia yang tidak pernah ada".

Sedangkan kata "apa" yang digunakan oleh Bahasa Inggris sebagai kata penanya sebuah nama seperti ingin menunjukkan bahwa nama hanyalah sebuah kata, bukan sebuah bukti keberadaan manusia dan sebagainya. Ini hanyalah pikiran saya bukan sebuah propaganda melawan barat dan sebagainya, dan lagipula saya tidak ingin bercerita lebih lanjut, saya bukan orang Inggris.

Tapi dimanapun pastilah nama mempunyai arti, setidaknya ada suatu alasan orangtua memberikan nama tertentu kepada anaknya. Nama di sini adalah sebuah harapan akan masa depan seorang anak. Nama yang menjadi bukti harapan orangtua pada anaknya adalah sebuah bukti cinta kasih, setidaknya bukti bahwa orangtua menginginkan anaknya mendapatkan hidup yang layak dan ideal-menurut orangtua paling tidak.

Tapi nama akan menjadi percuma apabila seseorang tidak menjaga namanya. Menjaga nama berarti bukan sekedar  mengetahui dan tidak melupakan arti sebuah nama namun juga berusaha agar nilai-nilai yang terkandung dari sebuah nama bukan hanya label belaka namun sebagai Bukti Keberadaan Kita di Dunia.

GBU

by Fander Globalismus

Masa Penantian

Sunday, June 17th, 2007

Setiap orang pasti pernah mengalami apa yang dinamai dengan penantian, entah penantian akan seseorang, hasil ulangan, hasil audit, dan lain-lain. Dan apa yang mereka rasakan pastilah sama: rasa cemas, terkadang mereka berspekulasi akan hasil yang akan diperoleh, rasa senang yang luar biasa. Intinya mereka akan mengalami hal yang tidak biasa karena mereka tahu mereka akan menghadapi hal yang tidak mereka ketahui secara pasti.

Padahal kalau dirunut lebih lanjut, apa yang kita nanti-nanti tidak seperti yang kita bayangkan. Pesta yang kita nanti tidak seseru yang kita harapkan, hasil ulangan yang diduga jelek ternyata hasilnya seperti biasa-tidak ada perubahan yang berarti, dan sebagainya.

Jadi buat apa kita merasakan apa yang disebut dengan kecemasan yang berlebih, rasa senang yang malah membuat kita terganggu (tekanan darah dan denyut nadi meningkat adalah salah satu contohnya), dan segala perasaan aneh yang malah membuat kita merasa tidak enak?

Contoh ekstrimnya adalah sebagai berikut: Seorang terpidana yang akan menjalani hukuman mati sedang merasa sangat takut. Ia berpikir apakan ia akan merasakan rasa sakit yang luar biasa lalu ia akan mengalami derita yang amat sangat luarbiasa. Wajar saja ia merasa demikian karena apa yang akan ia alami bukanlah hal yang biasa buatnya. Ia merasa tidak enak badan, tidak bisa makan, tubuhnya menjadi pucat dan kurus karena tidak bisa menahan tekanan mental yang ia derita. Namun apa yang ia rasakan saat hukuman mati dijalankan tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Tubuhnya tidak mengejang dan yang terpenting ia langsung tewas seketika saat peluru menembus dadanya.

Sebenarnya apa yang menjadikan manusia seperti ini? Jawabannya menurut saya adalah rasa ingin tahu. Manusia selalu ingin yahu tentang apa yang akan terjadi dan apa yang akan ia alami. Rasa ingin tahu inilah yang mengantarkan manusia pada perasaan diombang-ambing, penuh kecemasan, dan akhirnya masuk pada keadaan spekulatif. Manusia pada akhirnya mencoba meramal tentang apa yang akan terjadi padanya. Spekulasi yang terlalu jauh justru akan membuat manusia masuk pada rasa cemas dan membuat manusia putus asa.

Jadi apa yang harus kita lakukan bilamana kita merasa cemas akan hal yang akan menimpa kita? Satu-satunya yang menurut saya "legal" adalah membangun rasa optimis dan cenderung menghindari spekulasi yang condong ke arah hasil yang negatif. Hal ini akan membuat kita lebih nyaman dan fokus ke arah yang lebih baik.

Hasil yang kita dapat mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita harap, tetapi dunia terus berputar…..(saya menulis post ini dalam masa penantian)……..

GBU

by Fander Globalismus