Archive for May, 2007

Superioritas IPA

Wednesday, May 16th, 2007
  • Tulisan ini memang saya dedikasikan bagi anak-anak kelas 10 SMA yang akan segera mengalami yang namanya penjurusan. Penjurusan adalah sebuah momen penting bagi seseorang yang akan melangkah dalam karir di kemudian hari. Jurusan yang umum terdapat di sekolah di Indonesia adalah IPA dan IPS (biasanya ditambah dengan jurusan bahasa ataupun pengembangan jurusan).

Lalu apa yang jadi masalah? Masalahnya di Indonesia, jurusan sering disalahartikan menjadi ukuran kemampuan intelektual siswa. Siswa yang masuk IPA dianggap mempunya otak yang lebih encer ketimbang siswa jurusan IPS. Parahnya lagi terkadang kebijakan sekolah juga medukung paradigma masyarakat seperti ini seperti masalah fasilitas, pengadaan guru, maupun kebijakan intern lainnya.

Para siswa-pun seperti ’setuju’ akan paradigma seperti ini. Para siswa IPA seperti merasa sebagai kaum superior, melakukan pelecehan bagi para siswa IPS. Contoh yang saya ingat adalah tawuran antara siswa IPA dengan siswa IPS di salah satu SMA. Jelas ini adalah akibat dari gap dan ‘aturan’ diskriminatif yang berkembang di kalangan siswa.

Keadaan akan bertambah miris bila kita melihat bahwa selama ini sebagian besar perguruan tinggi dalam negeri membuka pilihan jurusan yang lebih luas untuk para calon mahasiswa dari golongan IPA. Contoh utama adalah siswa kelas 12 IPA bisa masuk ke jurusan ilmu ekonomi (yang notabene adalah porsinya IPS). Sedangkan bagi siswa IPS cuma bisa gigit jari karena tidak bisa masuk ke ‘wilayah’ IPA.

Seharusnya jurusan tidak diperlakukan sebagai alat ukur ‘kadar kepekatan’ otak siswa. Jurusan adalah sarana pemfokusan porsi pembelajaran agar ilmu yang masuk menjadi fokus dan efektif SESUAI DENGAN KEINGINAN DAN KEMAMPUAN SISWA. Ya, inilah arti sebenarnya dari istilah penjurusan. Paradigma seperti inilah yang dapat membangun manusia masa depan yang lebih bermutu.

What’s the solution? Karena setiap masalah butuh yang namanya solusi, maka inilah solusinya:

  • Aturlah supaya jurusan dalam perguruan tinggi sesuai dengan jurusan dan porsi pembelajaran siswa.
  • Perbaikan sistem pendidikan yang diskriminatif (masalah fasilitas, guru, uang sekolah) mutlak harus dilakukan.
  • Ubah paradigma masyarakat lewat pertemuan orang tua siswa, penyuluhan, maupun cara lainnya.
  • Terakhir tapi yang terpenting adalah mulai dari diri kita sendiri, bagaimana cara kita memandang sebuah penjurusan.

Yah itu saja, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kelanjutan negeri yang carut marut ini.

Nge-jam ber3

Monday, May 7th, 2007

Ya, apa yang bisa dilakukan kalau sebuah band pemula, personelnya cuma ada tiga? Kebanyakan band trio adalah orang-orang profesional, contoh: Muse, Andra and The Backbone, Green Day, dll. Lha kalau di band amatir? Salah satu alasan utama adalah kurang orang, dan alasan inilah yang paling tepat untuk saya, adik saya, dan Krisma.

Senin, 7 Mei 2007, saya dan adik saya mengajak Krisma, teman mantan seperguruan saya ngeband. Tanpa banyak cing-cong langsung saja pesen tempat di studio.

Di sana kami bingung mau nyanyi lagu apa (nah lo), so kami maen asal saja yang penting nyambung. Alhasil bukan lagu yang didapat, malah suara aneh, asal, dan tidak jelas. Parahnya lagi, hal ini berlangsung selama hampir satu jam. Di tengah kegalauan dan frustasi, Krisma memainkan lagu tahun jebot, "If". Saya tahu tahu itu dan langsung mengambil bas. Kami bersama-sama memainkan dengan penuh feeling, gebukan drum adik saya hanya mengandalkan feeling dan saya hanya mengikuti progesi kord dari Krisma. Well, tidak buruk untuk yang pertama, vokal cabutan saya-pun tidak kacau. Kami memainkan lagu itu dengan enjoy dan penuh improvisasi, yah kami ngejam ber3.

Lagu kedua "I Will Fly" juga penuh aroma improvisasi (adik saya hanya mengandalkan feeling dalam memainkan drum). Dan saatnya solo gitar, kali ini saya memainkan gitar. Saya manfaatkan latihan tangga nada blues dan…wow wonderful, saya tidak menyangka, solo gitar saya benar-benar masuk, meski saya cuma memakai tangga nada blues.

Overall, kami benar-benar menikmatinya, tidak ada rasa beban saat pulang, malah yang ada rasa penasaran akan lagu-lagu lain yang mungkin bisa dicoba. Kesempatan lain adalah bulan Juni, saat saya pulang, so…are you ready to raawwwwkkkk???????