BLog ini Pindah
March 16th, 2008 by fandermeetblackBlog ini pindah ke wordpress sebagai fanderlart. Isi dari blog tetap merupakan pemikiran dan sebagainya…
link: fanderlart.wordpress.com
terima kasih
Blog ini pindah ke wordpress sebagai fanderlart. Isi dari blog tetap merupakan pemikiran dan sebagainya…
link: fanderlart.wordpress.com
terima kasih
Sudah setahun lebih sejak Honda vario diluncurkan. Sejak awal kemunculannya skuter bebek Honda ini memang diset pabrikannya untuk menekan dan menghalangi penjualan Mio. Segalanya diset agar sesuai dengan pasar Mio, mulai dari kapasitas mesin, model, sampai dimensi (meski akhirnya memang lebih gambot daripada Mio).
Sekilas Vario memang unggul dalam banyak hal. Mulai dari penggunaan radiator yang merupakan pelopor di kelas yang sama di Indonesia, ban yang lebih lebar, bodi yang lebih modern dan futuristik, dan side stand swicth. Melihat tes di Otomotif pun Vario unggul dalam performa mesin dan efisiensi bahan bakar. Atas dasar itu semua tidak sedikit orang yang memperkirakan bahwa skubek (skuter bebek) Honda inilah yang akan merajai pasar yang selama ini dipegang oleh Mio.
Namun apa daya, menurut data penjualan AISI, Vario masih berada di urutan kedua setelah Mio. Selisih yang adapun lumayan jauh, Yamaha Mio mencetak angka 224.190 sedangkan Honda Vario 149.196. Prediksi banyak orang dan media pun meleset, Honda tak bisa meraih mahkota di kelas ini.
Apa yang salah dari penjualan Vario? Spesifikasi jelas menggiurkan, jaminan brand Honda, fasilitas AHASS pun bejibun. Tidak biasanya Honda kalah di satu kelas apalagi mengingat di awal kemunculannyapun promosinya jor-joran.
Salah satu yang menjadi sebab mungkin adalah image skubek itu sendiri…
Mio adalah skubek pertama yang bisa diterima pasar dengan baik, setelah Nouvo kurang menggairahkan dan Kymco tidak serius menggarap pasar. Begitu lakunya Mio dan selama bertahun-tahun melenggang sendrian, benak pasar sudah tercap oleh paradigma bahwa skubek adalah Mio, lainnya cuma niru!
Inilah letak kesalahan Honda. Honda tidak bisa melihat pasar dan kelewat berspekulasi hingga membuat penundaan yang terlalu lama. Publik sudah mencap bahwa Mio is the best lah. Honda pun kehilangan momen, promosi gila-gilaan sudah tidak mempan, berbagai potongan dan bonus tidak bisa membuat Vario jadi yang teratas.
Selain masalah kehilangan momen, Vario juga didera masalah bawaan. Mulai dari anchor pin sampai masalah kabel gas yang seret, membuat skubek Honda ini seakan mejadi produk gagal. Untungnya Honda mengakui hal ini dan melakukan recall.
Masalah edukasi pasar soal teknologi baru juga kurang berhasil. Masih banyak orang yang underestimate soal lampu di bodi. Sebagian besar tidak menyukai sorot lampu yang tidak mengikuti arah setang tapi arah bodi. Teknologi radiator juga dianggap merepotkan dan njelimet. Bodi yang bongsor dianggap tidak lincah dan banyak pengendara khususnya wanita yang mengeluhkan hal ini.
Dilihat dari artikel diatas, sebenarnya siapa yang salah? Bagian pengembangan, bagian promosi, atau malah pasar sendiri?
Bisa dilihat lain kali…
GBU
by Fander Globalismus
Mohon maaf bagi yang mengira bahwa ini adalah lagu buatan saya. Tidak, tidak, saya terlalu pemula untuk membuat lagu seperti ini…
lagu ini adalah ciptaan salah satu band favorit saya, Dream Theater (DT). Berasal dari album dengan judul yang sama, lagu ini menawarkan pengalaman menikmati musik dengan cara berbeda.
Berbeda dengan band-band lain yang menciptakan lagu sederhana, cenderung easy listening, sing along, dll. Dream Theater menawarkan konsep progresive metal yang rumit dan sulit dicerna oleh orang kebanyakan.
Yang membuat lagu ini ribet tentunya adalah notasi yang aneh dan njelimet. Banyak sekali nada-nada yang sangat tidak akrab di kuping kita. Masih ditambah lagi dengan tempo yang aneh dan berubah-ubah. Lagi…liriknya juga aneh dan berat…sepertinya perlu sedikit pengalaman untuk memahami lirik Octavarium.
Terlepas dari ketidakwajaran lagu ini, tetap saja saya suka. Mengapa? Tentu saja (selain saya memang suka band ini jadi kefanatikan digeser sebentar) keunikannya. Saya sudah bosan dengan band yang itu-itu saja, apalagi dengan munculnya band-band seperti Kangen dkk. Saya perlu sesuatu yang baru, lebih rumit, heavy, dan tentunya lebih skillfull (saya tidak meragukan lagi skill mereka)…
GBU
by Fander Globalismus
"Apalah arti sebuah nama?"
Sepertinya ini sebuah pertanyaan yang keren bila diucapkan, apalagi diucapkan saat momen-momen yang khusus. William Shakespeare-lah yang mempopulerkan pertanyaan ini. Saya pernah membaca salah satu komik yang menjadikan pertanyaan ini sebagai salah satu inti dari permasalahan cerita. Namun entah mengapa siapapun yang menyebutkan kutipan ini pasti membawa efek khusus bagi saya.
Nyatanya memang demikian, "Apalah Arti Sebuah Nama". Sebuah pernyataan (bukan pertanyaan) yang menggugah hati seperti menanyakan apakah nama itu.
Sebelumnya saya ingin menunjukkan fakta unik mengenai nama:
Bahasa Inggris menggunakan pertanyaan:"What is your name?" bila diartikan secara harafiah: Apa namamu?
Bahasa Indonesia menggunakan pertanyaan:Siapa namamu?
Keduanya menanyakan hal yang sama yaitu nama kita, seperti apakah kita ingin dipanggil?
Saya mendapatkan kesan bahwa Bahasa Indonesia menggunakan nama sebagai bukti keberadaan seseorang di dunia, bahkan bilamana seseorang tidak diketahui namanya, ia akan dipanggil dengan nama buatan Mr. X misalnya. Orang akan tidak eksis bila ia tidak mempunyai nama, sama seperti ia tidak mempunyai wujud dan bisa juga disebut sebagai "manusia yang tidak pernah ada".
Sedangkan kata "apa" yang digunakan oleh Bahasa Inggris sebagai kata penanya sebuah nama seperti ingin menunjukkan bahwa nama hanyalah sebuah kata, bukan sebuah bukti keberadaan manusia dan sebagainya. Ini hanyalah pikiran saya bukan sebuah propaganda melawan barat dan sebagainya, dan lagipula saya tidak ingin bercerita lebih lanjut, saya bukan orang Inggris.
Tapi dimanapun pastilah nama mempunyai arti, setidaknya ada suatu alasan orangtua memberikan nama tertentu kepada anaknya. Nama di sini adalah sebuah harapan akan masa depan seorang anak. Nama yang menjadi bukti harapan orangtua pada anaknya adalah sebuah bukti cinta kasih, setidaknya bukti bahwa orangtua menginginkan anaknya mendapatkan hidup yang layak dan ideal-menurut orangtua paling tidak.
Tapi nama akan menjadi percuma apabila seseorang tidak menjaga namanya. Menjaga nama berarti bukan sekedar mengetahui dan tidak melupakan arti sebuah nama namun juga berusaha agar nilai-nilai yang terkandung dari sebuah nama bukan hanya label belaka namun sebagai Bukti Keberadaan Kita di Dunia.
GBU
by Fander Globalismus
Setiap orang pasti pernah mengalami apa yang dinamai dengan penantian, entah penantian akan seseorang, hasil ulangan, hasil audit, dan lain-lain. Dan apa yang mereka rasakan pastilah sama: rasa cemas, terkadang mereka berspekulasi akan hasil yang akan diperoleh, rasa senang yang luar biasa. Intinya mereka akan mengalami hal yang tidak biasa karena mereka tahu mereka akan menghadapi hal yang tidak mereka ketahui secara pasti.
Padahal kalau dirunut lebih lanjut, apa yang kita nanti-nanti tidak seperti yang kita bayangkan. Pesta yang kita nanti tidak seseru yang kita harapkan, hasil ulangan yang diduga jelek ternyata hasilnya seperti biasa-tidak ada perubahan yang berarti, dan sebagainya.
Jadi buat apa kita merasakan apa yang disebut dengan kecemasan yang berlebih, rasa senang yang malah membuat kita terganggu (tekanan darah dan denyut nadi meningkat adalah salah satu contohnya), dan segala perasaan aneh yang malah membuat kita merasa tidak enak?
Contoh ekstrimnya adalah sebagai berikut: Seorang terpidana yang akan menjalani hukuman mati sedang merasa sangat takut. Ia berpikir apakan ia akan merasakan rasa sakit yang luar biasa lalu ia akan mengalami derita yang amat sangat luarbiasa. Wajar saja ia merasa demikian karena apa yang akan ia alami bukanlah hal yang biasa buatnya. Ia merasa tidak enak badan, tidak bisa makan, tubuhnya menjadi pucat dan kurus karena tidak bisa menahan tekanan mental yang ia derita. Namun apa yang ia rasakan saat hukuman mati dijalankan tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Tubuhnya tidak mengejang dan yang terpenting ia langsung tewas seketika saat peluru menembus dadanya.
Sebenarnya apa yang menjadikan manusia seperti ini? Jawabannya menurut saya adalah rasa ingin tahu. Manusia selalu ingin yahu tentang apa yang akan terjadi dan apa yang akan ia alami. Rasa ingin tahu inilah yang mengantarkan manusia pada perasaan diombang-ambing, penuh kecemasan, dan akhirnya masuk pada keadaan spekulatif. Manusia pada akhirnya mencoba meramal tentang apa yang akan terjadi padanya. Spekulasi yang terlalu jauh justru akan membuat manusia masuk pada rasa cemas dan membuat manusia putus asa.
Jadi apa yang harus kita lakukan bilamana kita merasa cemas akan hal yang akan menimpa kita? Satu-satunya yang menurut saya "legal" adalah membangun rasa optimis dan cenderung menghindari spekulasi yang condong ke arah hasil yang negatif. Hal ini akan membuat kita lebih nyaman dan fokus ke arah yang lebih baik.
Hasil yang kita dapat mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita harap, tetapi dunia terus berputar…..(saya menulis post ini dalam masa penantian)……..
GBU
by Fander Globalismus
Lalu apa yang jadi masalah? Masalahnya di Indonesia, jurusan sering disalahartikan menjadi ukuran kemampuan intelektual siswa. Siswa yang masuk IPA dianggap mempunya otak yang lebih encer ketimbang siswa jurusan IPS. Parahnya lagi terkadang kebijakan sekolah juga medukung paradigma masyarakat seperti ini seperti masalah fasilitas, pengadaan guru, maupun kebijakan intern lainnya.
Para siswa-pun seperti ’setuju’ akan paradigma seperti ini. Para siswa IPA seperti merasa sebagai kaum superior, melakukan pelecehan bagi para siswa IPS. Contoh yang saya ingat adalah tawuran antara siswa IPA dengan siswa IPS di salah satu SMA. Jelas ini adalah akibat dari gap dan ‘aturan’ diskriminatif yang berkembang di kalangan siswa.
Keadaan akan bertambah miris bila kita melihat bahwa selama ini sebagian besar perguruan tinggi dalam negeri membuka pilihan jurusan yang lebih luas untuk para calon mahasiswa dari golongan IPA. Contoh utama adalah siswa kelas 12 IPA bisa masuk ke jurusan ilmu ekonomi (yang notabene adalah porsinya IPS). Sedangkan bagi siswa IPS cuma bisa gigit jari karena tidak bisa masuk ke ‘wilayah’ IPA.
Seharusnya jurusan tidak diperlakukan sebagai alat ukur ‘kadar kepekatan’ otak siswa. Jurusan adalah sarana pemfokusan porsi pembelajaran agar ilmu yang masuk menjadi fokus dan efektif SESUAI DENGAN KEINGINAN DAN KEMAMPUAN SISWA. Ya, inilah arti sebenarnya dari istilah penjurusan. Paradigma seperti inilah yang dapat membangun manusia masa depan yang lebih bermutu.
What’s the solution? Karena setiap masalah butuh yang namanya solusi, maka inilah solusinya:
Yah itu saja, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kelanjutan negeri yang carut marut ini.
Ya, apa yang bisa dilakukan kalau sebuah band pemula, personelnya cuma ada tiga? Kebanyakan band trio adalah orang-orang profesional, contoh: Muse, Andra and The Backbone, Green Day, dll. Lha kalau di band amatir? Salah satu alasan utama adalah kurang orang, dan alasan inilah yang paling tepat untuk saya, adik saya, dan Krisma.
Senin, 7 Mei 2007, saya dan adik saya mengajak Krisma, teman mantan seperguruan saya ngeband. Tanpa banyak cing-cong langsung saja pesen tempat di studio.
Di sana kami bingung mau nyanyi lagu apa (nah lo), so kami maen asal saja yang penting nyambung. Alhasil bukan lagu yang didapat, malah suara aneh, asal, dan tidak jelas. Parahnya lagi, hal ini berlangsung selama hampir satu jam. Di tengah kegalauan dan frustasi, Krisma memainkan lagu tahun jebot, "If". Saya tahu tahu itu dan langsung mengambil bas. Kami bersama-sama memainkan dengan penuh feeling, gebukan drum adik saya hanya mengandalkan feeling dan saya hanya mengikuti progesi kord dari Krisma. Well, tidak buruk untuk yang pertama, vokal cabutan saya-pun tidak kacau. Kami memainkan lagu itu dengan enjoy dan penuh improvisasi, yah kami ngejam ber3.
Lagu kedua "I Will Fly" juga penuh aroma improvisasi (adik saya hanya mengandalkan feeling dalam memainkan drum). Dan saatnya solo gitar, kali ini saya memainkan gitar. Saya manfaatkan latihan tangga nada blues dan…wow wonderful, saya tidak menyangka, solo gitar saya benar-benar masuk, meski saya cuma memakai tangga nada blues.
Overall, kami benar-benar menikmatinya, tidak ada rasa beban saat pulang, malah yang ada rasa penasaran akan lagu-lagu lain yang mungkin bisa dicoba. Kesempatan lain adalah bulan Juni, saat saya pulang, so…are you ready to raawwwwkkkk???????
Opini ? Apa itu? Salah satu rubrik di Surat Kabar atau…
Tak usah buka kamus, cukup pikirkan sendiri apa itu opini.
Menurut saya opini adalah suatu bentuk apresiasi terhadap segala bentuk yang mampu dicerna oleh pikiran dan hati manusia baik secara utuh maupun secara tidak utuh…absurd? OK, singkatnya opini itu pendapat (meski secara luas, definisi ini tidak cocok tapi tidak apa-apa).
Dalam negara yang menganut demokrasi, rakyat boleh mengeluarkan pendapatnya. Di Indonesia, hal ini diatur dalam UUD, yang pasalnya saya lupa, tetapi yang jelas ada perlindungan terhadap opini yang kita kemukakan.
Perlindungan terhadap opini ini (atau sebut saja pendapat, masukan, dll) membuktikan adanya suatu kekuatan pada opini. Opini dapat memiliki kekuatan untuk merubah sesuatu apabila digunakan secara tepat sasaran. Contoh saja berikan saja opini mengenai RUU APP yang belum jelas kapan akan disahkan, bila para petinggi kita masih punya hati, tentu mereka akan mempertimbangkan apa yang anda bicarakan.
Tetapi opini adalah opini. Tidak ada suatu keharusan untuk mengikuti semua hal yang dikemukakan dalam opini orang-orang. Maka dari itulah opini menjadi hal yang kuat segaligus lemah, kuat karena mampu mengubah sesuatu, lemah karena opini sering "diacuhkan".
Tapi opini adalah opini, ada yang mau beropini?
malam ini aku
aku ada di tempat biasa
yang remang-remang
hanya duduk di sisi
pojok warung dan
melihat muda-mudi bercinta
tak usah banyak cakap, kuambil batu
kulempar mereka